Weezer - In the garage
Weezer-The Weight (Cover)
Reuni Kecil Tim Besar, ya acara yang diadakan Jak Online untuk memperingati hari jadinya yang ke 10 memang terasa berbeda dengan acara yang sudah JO buat sebelumnya. Berbeda karena Jak Online mengundang para mantan dan pemain Persija saat ini sebagai bentuk kepedulian JO terhadap Persija, bukan hanya sekedar mengenal Persija ‘hari ini’ tetapi juga belajar untuk menghargai masa lalu dan sejarah Persija yang sangat panjang. Acara ini digelar hari Minggu, 24 Juli 2011 di Pro Arena Futsal, Pondok Indah, Jakarta Selatan.
Pemain yang hadir dalam acara ini mewakili era-nya masing-masing, Sinyo Aliandoe mewakili pemain Persija era 60an lalu Anjas Asmara, Oyong Liza, Suaib Rizal mewakili era 70an. Dari era 80an hadir pula Adityo Darmadi ‘striker cerdas’ yang sangat di hormati lawan-lawan Persija serta kiper lincah di era 90an Zahlul Fadil. Serta mantan pemain dan pelatih Timnas, Tumpak Sihite.
Foto By Onay (JC)
Selain pemain, hadir pula perwakilan dari klub-klub anggota seperti Jusuf Murad dari PS Setia, Benny Erwin dari Trisakti FC, Benyamin Leo Betty dari PS P.O.P dan juga Budiman Dalimunthe dari Menteng Yunior.
Acara dibuka dengan sambutan dari ketua JO, Nugroho Agung dan juga ketua panitia, Ilham Reza Fahlevi, setelah itu mulailah perkenalan pemain-pemain legenda, dimulai dari era 60an-70an. Sebelumnya juga dtampilakan slide sejarah Persija, tampak para pemain legendaris Persija seperti bernostalgia dengan melihat foto-foto masa muda mereka di Persija.
Mata Anjas Asmara sedikit menyiratkan kenangan-kenangan indah saat berbaju Persija, bahkan dia naik ke atas panggung dan menyebutkan satu persatu pemain Persija tahun 1973 yang tampak di foto slide. Ditampilkan pula foto-foto saat Persija melawan OFK Beograd, lagi-lagi mata Anjas menyiratkan kenangan, memang pada pertandingan ini Persija kalah 1-5 tetapi Anjas-lah pencetak gol tunggal ke gawang jawara Beograd pada tahun 1973 tersebut.
Setelah menampilkan foto slide, mulai sesi diskusi dan cerita dari para legenda, Anjas Asmara adalah pemain yang paling kritis dalam hal perkembangan sepakbola Indonesia, bahkan dia berani mengkritik para pengurus sepakbola yang bukan dari kalangan sepakbola. Begitu juga dengan kritikan dari Oyong Liza yang terlihat kecewa terhadap The Jak yang masih ada berperilaku tidak tertib, tetapi Oyong juga memuji The Jakmania sebagai penyemangat tim Persija. Jika dulu mereka bertanding dengan minim dukungan, sekarang Persija sudah mempunyai pendukung yang melimpah.
Cerita Suaib Rizal lain lagi, dia bercerita tentang pertandingan Persija v Ajax pada tahun 1974. Saat itu Persija kalah 1-4, ada hal yang paling diingat di lapangan oleh Suaib Rizal dimana dia gagal menjaga salah satu pemain ajax yang memang mempunyai kecepatan tinggi, pemain ajax itu akhirnya membuat gol ke gawang Persija yang saat itu dikawal Ronny Paslah.
” saat gol itu terjadi, Ronny menyalahkan saya dia bilang ‘gimana nih?’, ya saya juga menjawab ‘ya gimana, ron’ ” kata Suaib Rizal ketika mengingat pertandingan Persija v Ajax tersebut. Saat itu memang Persija menjadi primadona sepakbola Indonesia, Suaib mengaskan bahwa pemain timnas era dia adalah pemain Persija hanya satu atau dua pemain saja yang berasal dari luar Persija.
Setelah selesai berdiskusi dengan mereka, perkenalan dengan klub-klub anggota juga dilakukan untuk lebih mengenalkan klub-klub yang selama ini menjadi penyangga organisasi Persija. Harapan mereka, Persija harus bisa membenahi sistem pembinaan sehingga nantinya Persija bisa kembali mengorbitkan ‘local hero’ yang memang berasal dari Persija sendiri.
Tiba pula giliran dari era 80an dan 90an. Adityo Darmadi mewakili generasi 80an adalah striker lincah dan cerdas pada masanya, baik kawan maupun lawan sangat menghormati sosok Adityo Darmadi yang memang lahir dari keluarga bola dan Persija bahkan kedua anaknya pun adalah pemain sepakbola, yang paling besar Andro Levandy adalah pemain dari tim Persiba Bantul dan adiknya Lenzivio Adixi adalah kiper Persija U-21 dan juga tim Pra-PON DKI Jaya.
Adityo bercerita bahwa pada saat dia di Persija hampir sama dengan apa yang dialami oleh generasi 70an, dimana saat itu Persija minim pendukung, tetapi dibalik minim dukungan itu pemain-pemain Persija malah memiliki mental dan rasa ingin menang yang kuat dan masih cerita dari Adityo setiap kali Persija melawan Persib di Siliwangi teror pun sama seperti yang dialami Persija sekarang, bahkan dulu lebih parah
” setiap bertanding di Siliwangi, teror hampir sama seperti yang tim Persija sekarang alami, bahkan dulu penonton sampai di garis lapangan dan sudah pasti kita terkurung di dalam stadion bisa sampai 2-3 jam ” kata Adityo saat bercerita tentang rivalitas Persija-Persib.
Zahlul Fadil pemain era 90an juga mengiyakan komentar dari Adityo. Dimana saat pertandingan Persija v Persib bahkan di Menteng sekalipun bisa dipastikan 95 persen penonton adalah bobotoh, tetapi sama dengan senior-seniornya, bahwa teriakan dan makian musuh adalah motivasi untuk membawa Persija menang. dan Zahlul, yang saat ini masuk dalam jajaran tim pelatih klub Futsal Electric PLN Jakarta, memuji totalitas The Jak dalam mendukung Persija, saat ini Zahlul melihat Persija sudah mempunyai suporter yang sangat loyal dan ada baiknya kepercayaan itu harus menjadi motivasi tersendiri buat pemain-pemain sekarang.
Baik Anjas Asmara, Oyong Liza, Sinyo Aliandoe, Suaib Rizal, Adityo Darmadi dan Zahlul Fadil mengharapkan Persija kedepan menjadi lebih baik lagi, bahkan Anjas berharap dengan dukungan melimpah dari The Jak, harus menjadi motivasi pemain-pemain sekarang untuk membawa Persija berprestasi kembali.
Bagaimana pun kehidupan para legenda sekarang, Persija masih di hati mereka, segala kegagalan, kejayaan dan kenangan indah selama perjalanan karir dan hidup mereka di sepakbola nama Persija lah yang mereka melekat di hati mereka.
Acara ini memang bertujuan untuk lebih mengenalkan dan mendekatkan para pemain-pemain legenda dan klub-klub internal kepada pendukung Persija pada saat ini. dimana mungkin banyak dari kita yang tidak mengetahui siapa-siapa saja pemain yang sudah berjasa mengangkat nama Persija dan menjadikan Persija besar seperti sekarang ini. Event ini juga dihadiri pemain Persija di musim 2010/2011 diantaranya Leo Saputra & Amarzukih serta di penghujung acara turut dimeriahkan oleh Live Perform dari group rapper Kojek dan juga group musik HipHop Jak Boyz yang membawakan lagu-lagu bernuansa Persija & Jakmania.
(Source: jakmania.org)
Thejakmania.net – Ketua Umum The Jakmania, Larico Ranggamone mencoba meredam segala kabar tak sedap terkait adanya berita eksudus Paket Persija ke Persib Bandung. Meski kini dari management Persija belum ada kejelasan karena akan adanya pergantian kepengurusan Persija tahun 2011-2015, tapi Ayah Riko, begitu akrab disapa memastikan kalau pemain-pemain potensial yang dimiliki Persija musim lalu masih akan dipertahankan untuk musim depan.
Kabar angin soal bakal hengkangnya Pelatih Persija dan beberapa pemainnya sudah berhembus sejak awal bulan ini.
Isu tersebut berhembus makin kencang menyusul pernyataan dari manager Persib, Umuh Muchtar. Media lokal dan nasional pun makin ramai menyebut kalau Rahmad Darmawan dan beberapa pemainnya di Persija itu bakal segera angkat kaki. Hal ini dibantah dengan tegas oleh RD sapaan Rahmad Darmawan dan Greg Nwokolo
“Saya masih punya kontrak dengan Persija. Sebelum kontrak saya habis, saya belum pernah membicarakan kontrak saya kedepan dengan tim manapun. Itu mah Cuma bahasa media saja,” ungkap RD.
Disisi lain, Mendengar kabar tersebut, Greg Nwokolo pun tidak menampik jika ada tawaran beberapa klub Indonesia Super League (ISL) padanya. Persib Bandung memang jadi salah satu klub yang menginginkan dirinya. Tapi, klub ISL lainnya juga menyatakan tertarik untuk membawa dirinya pindah dari Macan Kemayoran.
“Sampai sejauh ini tawaran sudah banyak datang pada saya. Persib Bandung memang iya. Tapi, sekarang ini kontrak bersama Persija belum habis. Saya harus bersikap profesional sehingga menunggu dulu keputusan dari manajemen,” ungkapnya kepada Ayah Riko.
Menyangkut prioritas, pemain yang musim lalu menjadi topskor di Persija itu mengutarakan dirinya masih tertarik untuk bertahan di Persija. Persoalannya, kedekatan dirinya dengan Jakmania, membuatnya tidak ingin hengkang dari klub Ibukota tersebut.
“Saya sudah terlanjur cinta dengan Jakmania, tapi saya selalu profesional dengan klub manapun juga menghargai tim manapun yang serius pada saya. Untuk saat ini Persija masih jadi prioritas,” jelas pemain yang sudah bermain selama 2.333 menit untuk Persija dimusim lalu.
Persija Jakarta Supporters

JAKARTA - Persija Jakarta ternyata memiliki sejarah panjang yang cukup membanggakan, bukan hanya bagi warga Jakarta, namun juga Indonesia. Hal tersebut lantaran, tim macan kemayoran sempat menjajal kehebatan tim-tim di daratan eropa, termasuk tim besar seperti Ajax Amsterdam.
Hal tersebut di sampaikan Ketua Jak Online Nugroho Agung saat berbincang dengan Okezone, di ujung telepon.
“Dalam rangka memperingati ulang tahun Jak Online ke sepuluh kita akan menggelar acara bertajuk Reuni kecil untuk tim besar Persija.Kita coba menguak sejarah Persija yang hilang, salah satunya yaitu dengan mengungkapkan fakta bahwa Persija pernah bertanding dengan beberapa tim eropa tidak pernah terekspos, antara lain yaitu Ajax Amsterdam di tahun 1973, OFX Beorad Yugoslavia ditahun 1973, FC Kalmar, club eropa timur tahun 1954, dan melawan tim Nasional Korea Utara ditahun 1964,” ungkap Agung, Sabtu (23/7/2011).
Nanti,lanjutnya,akan dikupas sendiri oleh beberapa mantan pemain Persija yang sempat bermain dalam laga tersebut. “Kita akan mengundang legenda pemain Persija di era tahun 1970 sampai sekarang,” singkatnya.
Pihak panitia memungut biaya masuk mengikuti acara seminar dengan biaya Rp. 50.000 dan mendapatkan marchandise dan sertifikat. Lebih lanjut Agung menambahkan bahwa acara yang akan digelar besok, Minggu 24 Juli di Pro Arena Futsal Pondok Indah ini juga akan menampilkan beberapa dua group rapper yaitu Kojek dan Jak Z Boy.
“Nanti juga akan ada hiburan musik rap, acara akan dilangsungkan dari pukul 10.00 WIB, sampai pukul 16.00 WIB,”tukasnya.
(Source: bola.okezone.com)
Aww !
Just dance
Oh worms !!
Look a face . LOL !
Bandempo - PDKT 6 Bulan
Video : Anggun Priambodo and Platon Theodoris
Dolls : Anggun
Camera: Platon
Voice Syauqi, Adi Cumi, Tandun and Anggun
Edited: Syauqi
(Source: youtube.com)
Such a good song
Six years ago, a miracle happened
The Fields of Anfield Road is a football song sung by supporters of Liverpool Football Club. It proceeds to the tune of The Fields of Athenry; composed by singer-songwriter Pete St. John in 1979. Before being adapted by Liverpool supporters it was, and still is, sung in its original form by supporters of Ireland and Celtic, as well as GAA teams and the Ireland, Munster and London Irish rugby union teams.[1] The song was adapted in 2009 to include a third verse commemorating the twentieth anniversary of the Hillsborough Disaster. John Power from Cast and the La’s fame co-wrote the final verse and vocal contributions were made by Phil Thompson and Bruce Grobbelaar amongst others.[2] The song reached Number 16 in the UK Top 40 chart on 12 April 2009 and Number 14 a week later. The song was also at Number 9 on the UK iTunes chart on 13 April 2009. The first two verses were written by Liverpool F.C fan Gary “Fergo” Ferguson from Huyton.
(Source: indonesianfootball)
-----------------------------------------------------------------
-----------------------------------------------------------------
--------------------------------------------------------------
Dimas Guntur
--------------------------------------------------------------
--------------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------------
-----------------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------------
--------------------------------------------------------------